Blog Krist Ansaka

Hari ini saya mengunjungi Blog kaka Krist Ansaka. Sebagai seorang jurnalis, tentulah Kaka Krist memiliki tulisan-tulisan yang berkualitas dan dapat memberikan pencerahan kepada rakyat Papua. Semangat yang disebarkan kaka Krist juga tampak dari kerendahan hati yang mulia seperti diungkapkan Kaka Krist sbb:

Saya tidak pernah menginginkan merubah dunia yang sebesar ini, tetapi saya selalu berkeinganan merubah Papua mulai dari pribadi saya sendiri.

Benarlah kiranya kita mulai semua perubahan dari diri kita sendiri, Blog Rumah Papua juga senantiasa berkaca dan memperhatikan apakah yang sudah diperbuat dalam memperbaiki diri sendiri.

3 responses to “Blog Krist Ansaka

  1. Hanya Dengan Respek, Harga Diri Orang Kampung Terdongkrak
    Laporan : Krist Ansaka

    Pembangunan yang dilakukan dengan sistem proyek, cenderung membunuh harga diri, semangat membangun, dan menjadikan rakyat di kampung-kampung sebagai objek dan penonton pembangunan. Tapi Respek, merupakan gerakan membangun dari keberadaan rakyat (berpihak kepada rakyat), gerakan memperdayakan rakyat, dan Respek dapat mendongkrak kemandirian dan harga diri orang kampung.

    NELI Marian (26 tahun) dan perempuan lainnya di Kampung Abusa, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya, sejak 2007 menerima dana Respek 15 persen dari Rp 100 juta atau Rp 15 juta, telah berhasil membuat peternakan ayam kampung, membuat kebun sayur-sayuran, dan kini mereka secara rutin menerima pelayanan kesehatan. Sedangkan anak-anak mereka usia sekolah, kini mulai bersekolah dengan baik.
    “Sekarang kami tinggal di rumah yang baik, mandi dengan air bersih, makan dengan baik, serta hasil kebun dapat kami jual ke pasar dan hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan anak sekolah,” ungkap Neli Marian, Ketua PKK Kampung Abusa, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya kepada Papua Baru usai berdialog dengan Gubernur Papua, Barnabas Suebu saat melakukan kegiatan Turun Kampung di Kampung Wouma, Distrik Wamena, Jayawijaya, belum lama ini.
    Neli Marian dan perempuan lainnya di Kampung Abusa itu, hanya contoh dari ribuan perempuan-perempuan dan rakyat lainnya di kampung-kampung di seluruh Papua yang mulai tergerak menata diri dan keluarganya melalui program Resncana Strategi Pembangunan Kampung (Respek) yang digulirkan Barnabas Suebu sejak 2007.
    Ini adalah awal dari perubahan rakyat asli Papua. “Hanya dalam tempo tiga tahun, awal perubahan itu sudah mulai nampak di kampung-kampung. Dan saya yakin seyakin-yakinya, kalau gerekan membangun ini dilakukan secara kontinyu, maka dalam tempo 15 sampai 20 tahun mendatang, rakyat asli Papua akan mandiri atau sejahtera di atas kekayaannya sendiri,” ungkap Barnabas Suebu ketika melakukan kegiatan Turun Kampung di Pegunungan Bintang, Yahukimo, Boven Diogel, Merauke, Mappi, Jayawijaya, Tolikara dn juga dalam berbagai kesempatan, baik di Papua maupun di luar Papua.
    Selain itu, dalam diskusi ekslusif dengan Papua Baru, Suebu menekankan, bahwa hanya dengan semangat membangun melalui Respek, harga diri rakyat asli Papua akan terangkat. “Kalau membangun melalui proyek, hanya segelintir orang yang menikmati dan proyek itu menjadikan nrakyat sebagai penonton” kata Suebu.
    Menurut Gubernur yang juga mantan Duta Besar di sejumlah Negara, bahwa ada kekeliruan yang dilakukan pemerintah di berbagai Negara, termasuk Indonesia, yaitu kegiatan pembangjunan lebih ditekankan kepada proyek sehingga rakyat menjadi miskin.
    “Pembangunan fisik terus meningkat, dan jumlah rakyat miskin pun meningkat. Pola ini saya rubah. Pembangunan harus dari rakyat dan untuk rakyat. Pembangunan harus dimulai dari apa yang rakyat miliki. Pembangunan harus direncanakan oleh rakyat sendiri. Pembangunan harus dikerjakan oleh rakyat sendiri dan pembangunan harus dipertanggungjawabkan oleh rakyat sendiri. Inilah gerakan membangun dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dengan pola ini, harga diri rakyat akan terangkat, rakyat dapat mandiri dan kemiskinan akan turun,” tegas Suebu.
    Suebu memberikan contoh dengan Filofosi belajar sepeda. Orang tidak akan bias mengendarai Sepeda, kalau kita tidak memberikan sepeda untuk dia belajar dan dituntun. Kalau orang itu jatuh, kita harus tuntun dia lagi sehingga akhirnya dia mahir mengendarai sepeda. Jangan beranggapan, orang yang ingin mengendarai sepeda itu harus mahir mengendarai sepeda, barulah sepeda itu diberikan. Kalau anggarapan ini masih dipertahankan, maka sampai kapan pun, orang itu tidak bias mengendarai sepeda.
    Begitu pun orang asli Papua di Kampung-kampung. Kita harus memberikan uang, menuntun mereka untuk menyususun program pembangunan untuk dirinya, dan mereka sendiri yang kerjakan lalu mereka sendiri yang mempertanggungjawabkan.
    “Di Pemerintah Provinsi Papua dan di seluruh Kabupaten di Papua, hampir semua SKPD dalam melakukan pembangunan, masih berorientasi kepada proyek. Balum ada yang SKPD yang mampu untuk memberikan kepercayaan kepada rakyat di kampung-kampung untuk merencanakan, mengerjakan dan mempertanggungjawabkan suatu kegiatan pembangunan. Untuk itulah, saya mengajak sejumlah SKPD untuk ikut Turkam dan melihat sendiri hasil dari Respek itu,” ungkap Gubernur Papua.
    Gubernur memberikan Contoh. Di Kampung Maryam, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, ada Pos pembantu (Pustu) pelayanan kesehatan yang dibangun oleh rakyat sendiri dan tenaga medisnya dilatih oleh United Nation Developmen Program (UNDP) dan tenaga local itu yang menjadi tenaga medis bagi warga di kampung itu. Pustu ini selalu dikunjungi penduduk Kampung untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Tapi Dinas Kesehatan membangun lagi Pustu di kampung itu padahal, Pustu milik rakyat sudah ada.
    Ketika ditanya Papua Baru, mengapa Dinas Kesehatan tidak mendukung saja Pustu yangt dibangun rakyat itu? Gubernur menjawab, “Ini adalah contoh dari SKPD yang masih berorientasi proyek.” (Krist Ansaka)

  2. Secercah Harapan Mulai Nampak di Kampung-kampung
    Laporan : Krist Ansaka

    Program Rencana Trategis Pembangunan Kampung (Respek) yang menjadi program unggulan Gubernur Barnabas Suebu, tampaknya tidak sia-sia. Sejak digulirkan tahun 2007 hingga 2010, Program Respek telah membawa perubahan pola hidup masyarakat di kampung-kampung. Inilah awal dari Papua baru yang menjadi mimpi dari seorang Barnabas Suebu.

    WAJAHNYA cerah. Penyakit kulit yang diderita bertahan-tahun, sudah lenyap dari badannya. Air bersih tersedia. Rumah yang ditempatinya itu sudah terbuat dari beton semen. Tiga anaknya dapat bersekolah. Begitulah sekilas gambaran dari Anthon (34 tahun), warga Kampung Maryam, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel.

    Anthon adalah contoh dari ribuan penduduk di kampung-kampung di Papua yang kini mulai menikmati rumah yang baik, kesehatan yang baik, anak-anaknya dapat menikmati pendidikan dasar yang baik, serta kenyamanan mulai dirasakan lantaran sentuhan program Respek.

    Secercah harapan mulai nampak di kampung-kampung di Papua. Tapi bagi Gubernur Papua, Barnabas Suebu, perubahan yang terjadi di kampung-kampung itu, adalah awal dari kebangkitan penduduk asli Papua untuk keluar dari belenggu kemiskinan yang memilit orang Papua bertahan-tahun.

    Untuk melihat dan merasakan perubahan itu, serta mendengar langsung berbagai kendala yang menghambat program Respek itu, Barnabas Suebu, kembali turun kampung. Tahap pertama di tahun 2010, Suebu Turkam mulai dari Kampung Yapimakot di Serambakot, Kabupaten Pegunungan Bintang. Lalu dilanjutkan ke Kampung Moruku di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, terus terbang ke Boven Digoel di Kampung Maryam, Distrik Mandobu. Lalu ke Merauke di Kampung Tambat, Distrik Tanah Miring, lalu dilanjutkan ke Kampung Soba di kabupaten Seribu Rawa di Mappi.

    Dari lima kampung yang dikunjunginya itu, nampak bahwa hanya dengan program Respek, belenggu kemiskinan yang melilit rakyat di kampung-kampung dapat teratasi, dan secercah harapan pun mulai nampak.

    Kenyataan ini tak bisa terbantahkan oleh siapapun, entah itu politisi, birokrat, akademisi, aktivis LSM atau siapa pun, bahwa awal dari wujud dari Papua Baru mulai nampak di kampung-kampung.

    Semua itu dapat terlaksana lantaran konsistensi dari seorang Barnabas Suebu untuk mewujudkan dasar dari perubahan bagi kehidupan rakyat asli Papua di kampung-kampung.

    Sejak November 2006, untuk pertama kalinya Barnabas Suebu berdiri di hadapan angota dewan yang terhormat untuk menjelaskan secara terinci tentang Visi Papua Baru – yaitu suatu Visi tentang membaiknya kesejahteraan penduduk asli dan seluruh rakyat Papua secara signifikan melalui pemanfaatan kekayaan alam Papua secara bijaksana dan berkesinambungan sehingga terciptanya suatu masyarakat Papua yang takut kepada Tuhan, patuh pada hukum, menjunjung tinggi hak-hak azasi manusia, dan menghargai kebudayaan dan adat istiadatnya; serta terwujudnya suatu tata kelola kepemerintahan yang baik, profesional, bertanggung jawab dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme di seluruh jajaran dan tingkatan pemerintahan di Provinsi Papua.

    Sejak dilantik selaku Gubernur dan Wakil Gubernur, Bas dan Alex terus konsisten mewujudkan Visi itu melalui lima misi Papua Baru, yaitu pertama, peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup penduduk asli dan seluruh rakyat Papua. Kedua, peningkatan kualitas pelayanan publik oleh lembaga pemerintahan dan swasta yang berfokus pada kampung. Ketiga, percepatan pembangunan infrastruktur. Keempat, peningkatan daya saing Papua sebagai tempat berinvestasi. Dan kelima, pemantapan kehidupan bermasyarakat yang adil dan demokratis.

    Kelima misi itu diwujud-nyatakan dengan menerapkan tiga kebijakan dasar, yaitu pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan, pembangunan yang berpusat pada rakyat dan mengutamakan kepentingan rakyat.

    Konsistensi dan kerja keras selama tiga tahun ini telah menunjukkan hasil-hasil yang menggembirakan. Melalui pelaksanaan RESPEK (Rencana Strategis Pembangunan Kampung), yang salah satunya ditandai dengan penyaluran dana tunai atau block grant hingga mencapai jumlah Rp 1 triliun di kampung-kampung. Dengan Respek ini, Provinsi Papua telah berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 40,78 persen pada tahun 2007 menjadi 37,53 persen pada bulan Maret 2009, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan.

    Keberhasilan kita bersama ini memperoleh apresiasi Presiden Republik Indonesia dalam pidato pada tanggal 3 Agustus 2009 yang lalu, yaitu ketika beliau menyampaikan pengantar/keterangan pemerintah atas Rancangan Undang-undang Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2010 di depan Rapat Paripurna Luar Biasa DPR RI di Jakarta.

    Dalam kesempatan itu Presiden menyatakan bahwa selama dua tahun terakhir, yaitu tahun 2007 dan 2008, seluruh Provinsi di Indonesia telah berhasil menurunkan tingkat kemiskinannya. Tetapi, penurunan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia tercapai di Tanah Papua, baik di Provinsi Papua maupun Papua Barat, yaitu mencapai 4 persen.

    Tidak saja tingkat kemiskinan berhasil kita turunkan, tetapi juga tingkat pengangguran terbuka telah turun secara cukup signifikan. Pada bulan Februari 2007 tingkat pengangguran tercatat sebesar 5,52 persen. Dua tahun kemudian, yaitu pada bulan Februari 2009, angka pengangguran mencapai yang terendah dalam lima tahun terakhir, yaitu sebesar 3,19 persen. Hal ini menunjukkan bahwa dana pemerintah pada umumnya, ditambah dengan investasi swasta maupun usaha-usaha ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat melalui sektor formal maupun informal, telah mampu menciptakan kesempatan kerja bagi anggota masyarakat yang belum memiliki pekerjaan. **

  3. Terima kasih sudah mengumpulkan tulisan2 sy yang tercecer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s