Kembali menulis setelah penelitian

Hampir setahun saya absen dari Rumah Blog  Papua karena penelitian yang banyak menyita tenaga, waktu dan memerlukan pengorbanan yang besar, namun puji Tuhan segala sesuatunya berjalan lancar. Sekarang saya sedang menyusun data-data yang terkumpul untuk dirangkai menjadi hasil karya yang mudah-mudahan akan memenuhi persyaratan untuk menjadi karya akademik.

Kadang berpikir alangkah berat, alangkah sulitnya dan kadang ingin menyerah karena rintangan bukan saja dari proses penelitian tetapi juga dalam membuka pikiran saya sendiri sehingga saya dapat menjadi paham.

Seperti inikah rasa anak-anak didik sedarah di tanah Papua dan Papua Barat dalam memahami sulitnya pelajaran di sekolah. Bukan kami bodo atau malas, tetapi kami butuh waktu dalam proses pemahaman tentang banyak hal. Kami orang Papua lebih sering bekerja dan belajar dengan rasa di hati, kadang senang kadang susah dan bukan dengan daya pikir yang dapat menyingkirkan rasa susah itu.

Terlebih dengan masih adanya pihak-pihak yang selalu bertikai tanpa memikirkan anak-anak Papua yang haus pelajaran yang haus akan cara belajar yang benar yang mudah menyatukan rasa yang sudah terasah dengan pikiran yang masih terhalangi oleh ketidakmengertian.

Pada masa-masa akhir tahun 2011, semakin sedih hati melihat pertikaian demi pertikaian tanpa ada titik terang untuk saling mengerti, baik dengan rasa di hati maupun dengan pikiran jernih.

Mengapakah bapa dan kaka dan pejabat di Papua, Papua Barat dan di Jakarta belum juga mengerti jeritan suara anak-anak Papua yang mendamba kedamaian agar dapat belajar dan menjadi pintar. Kemerdekaan buat anak-anak Papua adalah kebebasan untuk belajar tanpa ketakutan, tanpa intimidasi dari siapapun. Jeritan hati anak Papua sangatlah sederhana untuk dapat tersenyum dan membuka hati dan pikiran orang tua dan kaka semua untuk berhenti bertikai dan mulai bicara dengan bahasa perdamaian.

Tak ada arti kemerdekaan tanpa berakhirnya pertikaian. Dengarkanlah suara anak-anak Papua yang semakin lemah karena semakin tidak mengerti mengapa pertikaian terus berlanjut.

Saat menulis suara hati ini, bibir terasa bergetar, air mata tak dapat dibendung dan menetes membasahi kertas buku saya yang sudah lusuh dan tinta pulpen-pun mengotori lemabaran kertas. Puji Tuhan itu bukan darah !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s